Kamis, 01 September 2022

Media Nyuluh : YUK BELAJAR BUDIDAYA LEBAH MADU TRIGONA DARI KTH MEKAR SARI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS

    Kegiatan Temu Karya Budidaya Lebah Madu Trigona di KTH Mekar Sari dilaksanakan di rumah Ketua Kelompok Tani Hutan Mekar Sari Desa Rantau Udik 2 di Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur. Di Desa Rantau Udik 2 Tim disambut oleh Penyuluh TN Way Kambas menuju KTH Mekar Sari. KTH Mekar Sari merupakan KTH binaan TN Way Kambas. Diketuai oleh bapak Rohman dengan Pendamping Bapak Yudi Cucu Sumarwa. KTH Mekar Sari terkenal dengan kegiatan budidaya Lebah Madu Klenceng. Selain itu di sekretariat KTH Mekar sari hadir pula Ketua KTH Wana Bakti yang merupakan pecahan dari kelompok Mekar Sari.

Gambar  1. Pertemuan antara Pendamping dan anggota di lokasi Budidaya Lebah madu
Gambar  1. Pertemuan antara Pendamping dan anggota di lokasi Budidaya Lebah madu

Gambar  2. Bagan Susunan Pengurus KTH Mekar Sari

    KTH Mekar Sari dibentuk pada tahun 2017 dengan budidaya dua jenis madu Cerana dan Trigona. Dalam kegiatan usaha kelompok KTH telah mendapat bantuan dari TN Way Kambas berupa Log kayu rumah lebah madu Trigona. Lokasi budidaya terletak dibelakang rumah ketua KTH dimana dilaksanakan kegiatan. Terdapat belasan log kayu yang  tersusun di pekarangan belakang rumah. Di sebelah kanan terdapat tanaman Air Mata Pengantin berbunga merah muda ditanam seluas 5x10 meter. Tanaman Air mata pengantin merupakan salah satu pakan utama ternak lebah madu yang dibudidayakan. Selain itu masih terdapat jenis pakan lain seperti  tanaman yang mengandung getah seperti Nangka, dan lain sebagainya. Menurut penuturan Ketua KTH pakan dari tanaman bergetah ini membantu lebah madu untuk membuat sarang dimana madu dikumpulkan. Log kayu berisi sarang lebah ada yang sudah terisi dari awal dan ada pula diisi dengan melakukan perlakuan tertentu. Log kayu yang sudah terisi lebah madu biasa masyarakat jumpai di dalam hutan masyarakat maupun di kebun. Biasanya lebah klenceng dan trigona yang ditemui  pada kayu mati akan di potong dan dibawa pulang untu dibudidayakan.

Gambar 3. Tanaman Air Mata Pengantin sebagai pakan Lebah Madu 

Gambar  4. Log kayu sarang lebah dan kotak berisi sarang madu


    Sementara untuk sarang lebah yang dilakukan perlakukan tertentu apabila  ditemukan pada pohon yang masih hidup. Lalu dilakukan pemindahan dengan menempelkan media seperti botol air mineral yang diselotip gelap dan di tempelkan ke lubang dimana lebah tersebut bersarang. Dalam beberapa minggu, botol air mineral yang telah terisi sarangnya dapat dilepas dari sarang asli dan dibawa pulang untuk dipindahkan kembali ke log kayu buatan. Lubang sarang yang telah terisi lebah madu bagian atasnya dilubangi. Kemudian dibuat terhubung dengan kotak berisi sarang dimana madu yang dikumpulkan oleh lebah tersimpan. Setelah itu kotak kayu tersebut ditutup dan ditindih dengan kayu sebagai pemberat agar terhindar dari serangan hama seperti serangga dan reptil.

Gambar  5. Lubang yang dibuat Lebah sebagai pintu masuk ke sarang


Gambar  6. Sarang madu yang dibuat manual (berwarna gelap) dan dibuat oleh lebah (warna terang)



    Ada salah satu tips yang diungkapkan ketua KTH Mekar Sari yaitu dengan membuat cetakan mangkuk madu secara manual. Caranya dengan mencelupkan ibu jari kedalam parafin hasil sisa panen madu sebelumnya yang telah dicairkan. Setelah berbentuk mangkuk, diletakkan di dalam kotak sarang madu. Cara ini dilakukan agar lebah lebih cepat membuat sarang madu. Dalam beberapa jam cetakan mangkuk tersebut sudah berbentuk bola dan terhubung dengan sarang madu lainnya.

Gambar  7.  Sarang lebah madu Klenceng (jenis lebah lebih kecil)


        Madu trigona ini dapat dipanen paling cepat dalam satu bulan. Cara panennya sendiri dilakukan dengan menggunakan mesin yang dibuat oleh anggota untuk menyedot madu di tiap lubangnya. Sementara untuk jenis lebah madu klenceng yang lebih kecil sarangnya dilakukan dengan memerasnya secara langsung. Untuk rasa, madu trigona lebih manis sementara madu dalam sarang yang kecil lebih terasa asam.


Gambar  8. Kemasan produk madu KTH Mekar Sari


            Saat ini usaha budidaya lebah madu di KTH Mekar Sari telah dikomersilkan dan dipasarkan baik di kecamatan hingga ke luar daerah. Harga untuk satu botol kecil terbilang cukup mahal dibanding harga lebah madu akasia yang dibudidaya dan madu mangrove yang non budidaya di Jambi. Keseriusan usaha kelompok ini salah satunya dengan pelabelan dan kemasan madu yang menarik. KTH Ini telah menjadi KTH percontohan mengenai Lebah Madu Trigona hampir di sebagian wilayah Sumatera.


 

 

 

 

 

 

             

 

 

Senin, 18 Juli 2022

Media Nyuluh | Yuk, Kenali keluarga Kucing Yang Di lindungi Di Sumatera.

Sumatera merupakan salah pulau yang memiliki kekayaan biodiversiti. Fauna Flora baik itu dilindungi maupun tidak dilindungi tersebar di hutan-hutan Sumatera. Namun, dengan maraknya perdagangan dan perburuan tumbuhan dan satwa liar dilindungi, penting untuk mengetahui jenis-jenis satwa dilindungi khususnya di Sumatera. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat penting dalam pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar dilindungi maupun apabila ada penemuan satwa langsung.

Kali ini, Kita bicara Kucing. Famili Felidae ini memiliki banyak spesies dan beberapa diantaranya merupakan endemik Sumatera. bagi pecinta kucing, satwa ini banyak menjadi incaran untuk dipelihara. Ada pula yang memburu satwa ini untuk dijadikan aksesoris dan sebagainya. Maka dari itu, yuk kenali kucing-kucing berikut yang dilindungi dan dilarang untuk dimiliki, diburu dan diperdagangkan.

1.  Catopuma teinckii / Kucing emas / (NR)


Sumber Gambar : Vanaavi


Kucing Emas tinggal di hutan, savana, semak, dan padang rumput. Tersebar di Pulau Sumatera utamanya di Taman Nasional Kerinci Sebelat. Status Konservasi satwa ini Hampir terancam punah dengan populasi yang menurun setiap tahunnya. Kucing emas ini memiliki kebiasaan berkelompok, pakan buruannya seperti tikus dan ular. 

2.  Macan dahan sumatera /Neofelis diardi/ (EN)


Sumber Gambar : Chien C. Lee

 Macan Dahan Sumatera tersebar di Wilayah Sumatera khususnya si Taman Nasional seperti Taman Nasional Tesso Nilo dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Populasi satwa yang terancam punah ini berkisar 2.500 individu dewasa dan terus menurun. Kebiasaan satwa ini berkelompok dengan pakan seperti kera, ular, bekantan dan mamalia kecil lainnya.


3. Panthera tigris sumatrae / Harimau Sumatera (EN)

Sumber gambar : Langgam.id


Harimau sumatera merupakan satwa endemik Sumatera yang tersebar di Kepulauan Sumatera khususnya di Taman Nasional di Sumatera. Satwa yang status konservasinya terancam punah ini hanya memiliki populasi sekitar 400-500 individu. Kucing besar yang memiliki kebiasaan soliter ini dapat hidup doo hutan dataran rendah (Rawa) Seperti Taman Nasional Berbak Sembilang dan hutan Dataran Tinggi Seperti Taman Nasional Kerinci Seblat. Kepunahan satwa ini tak lepas dari perburuan liar yang biasanya dimanfaatkan sebagai obat, makanan san perhiasan baik kulit, tulang maupun kumisnya. Harimau Sumatera merupakan hewan karnivora, makanannya berupa Babi, rusa, orang utan, unggas dan trenggiling.

4. Pardofelis Marmorata / Kucing batu (NT)

Sumber gambar : Chen C. Lee

Kucing batu merupakan satwa yang status konservasinya hampir terancam punah. Kucing batu tampak sekilas mirip dengan Kucing Dahan Sumatera dari motif bulu. Hanya saja Kucing batuk lebih banyak bintik hitamnya dan memiliki ekor lebih panjang. Satwa ini hidup di hutan tropis kering dan dataran rendah basah dengan ketinggian 0-2.500mdpl. Tersebar di Pulau Kalimantan dan Sumatera seperti di Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kucing batu memangsa primata, tikus, reptil, burung, tupai, kalelawar buah, katak dan serangga.

5. Prionailurus bengalensis / Kucing Kuwuk  (LC)

Sumber gambar : centangbiru.com

Kucing Kuwuk hidup di hutan, semak, padang rumput dan lahan basar. Tersebar di pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Status konservasi kucing ini Sedikit kekhawatiran dengan populasi yang stabil. Kucing yang aktif dimalam hari ini memangsa ikan dan burung kecil. Dapat hidup di dekat pemukiman pedesaaan dan merupakan perenang yang hebat.

6. Prionailurus planiceps / Kucing Tandang  (EN)


Sumber Gambar : Marc Faucher

Kucing tandang tersebar di pulau Sumatera dan Kalimantan. Habitat kucing ini berada di ketinggian 0-700 m di hutan lahan basa, rawa, danau, sungai dan hutan. Status Konservasi satwa ini terancam punah dengan populasi yang menurun sekitar 2.449 ekor. Kebiasaan kucing ini berkelompok dengan mangsa ikan dan burung kecil.

Senin, 20 Juni 2022

Media Nyuluh | Administrasi Kelompok Tani Hutan

Sumber Gambar : metrokalimantan.com

Pembukuan kelompok adalah suatu rangkaian kegiatan untuk mencatat semua perubahan atau transaksi yang telah dilakukan menyangkut kegiatan kelompok, baik itu notulensi kegiatan rapat, buku anggota hingga kas kelompok.

Administrasi yang baik merupakan salah satu dasar dalam penilaian kelas kelompok. Dari administrasi kelompok juga dapat menunjukkan sudah sejauh mana perkembangan kegiatan kelompok yang telah dilaksanakan. 

Selain aturan kelompok (AD-ART) setiap kelompok harus mempunyai buku-buku administrasi kelompok yang dicatat secara tertib oleh pengurus kelompok atau anggota yang ditugasi untuk itu.

Administrasi Kelompok Tani adalah seperangkat catatan atau dokumen yang disediakan oleh kelompok menyangkut semua  kegiatan yang dilakukan kelompok tersebut. Perangkat administrasi dibedakan menjadi 3 bagian yaitu :
  1. Administrasi Kegiatan
  2. Administrasi Keuangan
  3. Kelengkapan lainnya.

1. Administrasi Kegiatan
    Kelengkapan administrasi kegiatan merupakan kelengkapan administrasi yang digunakan untuk mencatat segala kegiataan kelompok.  Administrasi Kegiatan dijabarkan sebagai berikut 
  1. Buku Susunan Pengurus
  2. Buku Daftar Anggota
  3. Buku Rencana Kegiatan
  4. Buku Kegiatan
  5. Buku Tamu
  6. Buku Notulensi rapat
  7. Buku Daftar hadir
  8. Buku Saran-saran Anggota
  9. Buku Anjuran Instansi Lain
  10. Buku Agenda Surat Masuk dan Keluar
  11. Buku Ekspedisi
  12. Buku Inventaris Sarana dan Prasaran
  13. Buku Konsultasi
  14. Buku Kunjungan Pengurus
  15. Buku Identitas Anggota

2. Administrasi Keuangan.
    Administrasi keuangan adalah segala catatab yang dilakukan oleh kelompok berkaitan dengan keuangan kelompok. Bebebrapa perangkat administrasi keuangan antara lain : 
  1. Buku Kas
  2. Buku Iuran Anggota Kelompok
  3. Buku Tabungan Anggota Kelompok
  4. Buku Inventaris
  5. Buku Penjualan
  6. Buku Pembelian dan 
  7. Buku Simpan Pinjam

3. Administrasi Kelembagaan Lainnya
Administrasi kelembagaan lainnya merupakan administrasi diluar administrasi keuangan dan kegiatan yang bertujuan sebagai dokumen identitas kelompok seperti :
  1. Sekretariat Kelompok
  2. Papan Nama Plank Kelompok Tani
  3. Stempel Kelompok Tani
  4. Arsip Dokumen dan Berita Acara Pembentukan Kelompok
  5. Arsip Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Kelompok
  6. Rencana Kerja Kelompok
  7. Rencana Kebutuhan Kelompok
  8. Rencana Usaha Anggota
  9. Buku Biodata Anggota Kelompok
  10. Papan Data Monografi Kelompok
  11. Peta Wilayah Kelompok
Dari sekian banyak jenis buku administrasi yang harus dilengkapkan, Paling tidak sebuah Kelompok Tani Hutan harus memiliki Sekretariat, AD/ART, Data Anggota, Stempel Kelompok, Buku Tamu, Buku Buku, Buku Notulensi, Daftar Hadir, Buku Kas, Buku Inventaris dan Buku Iuran Anggota. Dengan demikian sedikit banyaknya dapat menggambarkan kondisi kelompok dan sebagai pertanggung jawaban pengurus kelompok terhadap anggota, pembina maupun pendamping.



Rabu, 09 Februari 2022

Media Nyuluh | Mengenal Jernang, Alternatif Usaha Kelompok Tani Hutan yang Menjanjikan.


Sumber Gambar : hutanriau.or.id

    Jernang (Daemonorops sp), Merupakan salah satu jenis rotan yang memiliki nilai ekonomis namun tak banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Rotan jernang biasanya tumbuh dengan membentuk rumpun, memanjat hingga ketinggian 30 m tergantung dari tinggi pohon yang menjadi inang/tempat merambat. Batang rotan jernang langsing dan fleksibel berdiameter 2-3 cm dipenuhi duri-duri kecil dan tajam. Daun rotan jernang berwarna hijau terdiri dari helaian anak daun yang tersusun berpasang-pasangan, permukaan bagian bawah daun sedikit cekung. 

    Dari 530 jenis rotan di dunia, sebanyak 316 jenis terdapat di hutan Indonesia. Di wilayah hutan Sumatera terdapat 132 jenis. Beberapa jenis Rotan Jernang yang ada di Sumatera diantaranya D. didymophyllus BECC dengan karakteristik buah kecil-kecil dan sedikit menghasilkan getah, D. draco BL dengan karakteristik buah yang besar dan D. rubber BL (Jernang howe pelah) Sebagai pewarna batang rotan yang telah dikupas supaya berwarna merah.

    Rotan jernang mulai berbuah pada usia 2 tahun, akan tetapi baru menghasilkan getah jernang setelah berumur 5 tahun. Tanaman rotan jernang berbuah dua kali setahun, yaitu pada bulan April dan September. Buah rotan jernang seperti buah rotan pada umumnya, yaitu bulat kecil-kecil berkumpul seperti buah salak

    Getah jernang banyak digunakan sebagai bahan baku baik di dunia kesehatan maupun perindustrian sebagai berikut : 

  1. Bahan baku obat-obatan : obat diare, disentri, pembeku darah akibat luka, sakit gigi, asma, sipilis dan berkhasiat aphrodisiac (meningkatkan libido); 
  2. Bahan baku pewarna vernis, keramik, porselen, marmer, batu, kayu, rotan, bambu, cat dan kertas; 
  3. Bahan penyamakan kulit; 
  4. Bahan baku kosmetik/lipstik dll.
    Banyaknya manfaat dari jernang menjadikan jernang sebagai komoditi yang memiliki nilai jual tinggi. Dilansir Revis Asra dalam Perlindungan Pohon Induk Jernang (Daemonorops spp) di Mandiangin Jambi  buah jernang segar di Jambi mencapai Rp. 500.000/kg, sementara untuk buah yang berukuran kecil yang baru mekar dari tandan bunga dinilai seharga Rp. 70.000 sampai Rp. 100.000/kg, untuk getah/resin jernang mencapai Rp. 5.000.000/kg dan untuk pasar luar negeri misalnya Singapura harga jualnya mencapai USS 30/kg. Buah jernang diolah dalam bentuk tepung serbuk yang harganya lebih mahal mulai Rp1.250.000. Sama halnya dengan bentuk bubuk buah jernang per kg (kilogram) yang harganya dapat melambung tinggi mencapai Rp2.750.000.

    Jika tertarik membudidayakannya, bibit tanaman Jernang dapat dibeli di market place online maupun kepada penjual disekitar. Di market place online, harga bibit jernang bervariatif, dari kecambah hingga bibit berusia satu tahun. Harga bervariatif dari Rp. 2.000  - Rp. 63.900.

    Harga tersebut sebanding dengan hasil Jernang baik berupa Buah, resin maupun tepung Jernang. Budidaya ini dipandang prospektif dalam menambah pendapatan Kelompok Tani Hutan. Sehingga dengan demikian adanya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan anggota KTH yang mana berimbas pada peran aktif anggota KTH dalam menjaga Kawasan Hutan.




Sumber :

Kemenhut. (2015). Budidaya tanaman Rotan Jernang. Arthawisesa.com. Diakses tanggal 7 Feb 2022, dari http://arthawisesa.com/cybexluhut/index.php/katalog/c/12/Budidaya-Tanaman-Rotan-Jernang/.

Hanafiah, Junaidi. (17 Maret 2022). Jernang, Bukan Sembarang Tumbuhan Hutan. Mongabay.co.id. Diakses tanggal 7 Feb 2022 dari https://www.mongabay.co.id/2022/03/17/jernang-bukan-sembarang-tumbuhan-hutan/

Dyah, Ditta. (1 November 2021). Info Terbaru Harga Buah dan Getah Jernang. harga.web.id. Diakses tanggal 7 Feb 2022 dari https://harga.web.id/harga-buah-jernang-getah.info

Minggu, 15 Agustus 2021

Tamasya Raya, Simpang Bungur Taman Nasional Berbak Sembilang


Sok asik banget gaya ayuk yang neplok ke tiang itu. 


Hullaa….

Haii, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhhhh.

Ih, gak nyangka ya akhirnya ketemu lagi kita. Disaat aku lagi sibuk-sibuknya berperang (Cia ilaa, perang) dan menyamankan diri dan hati setelah mencurahkan semua perasaan (gitu kan ya) akhirnya aku menyempatkan diri menulis lagi disini.

Kali ini akuu akan cerita tentang perjalananku yang udah lamaaa banget. Jauh sebelum babang covid-19 datang dan jauh sebelum akhirnya aku berada di negeri Tali Undang Tambang Teliti, Merangin. Cerita perjalananku ini masuk dalam salah satu cerita kerenku sejauh ini. Yep, Ngetrip ke Simpang Bungur Taman Nasional Berbak Sembilang.

Oraitt, FYI Taman Nasional Berbak Sembilang itu ada di Provinsi Jambi (kayaknya Sumsel juga deh). Dekat banget dengan tempurungku, Sadu. Nah, awalnya saat pertama kali aku ngelihat fotonya Camat Sadu pada waktu itu Pak Helmi Agustinius di Simpang Malaka Taman Nasional Berbak. Pemandangan kiri kanan hutan dan jembatan kayu di dalam hutan itu keren banget. Seriusan dah. Selama seperempat abad aku hidup di Sadu aku baru tahu kalau di Air Hitam Laut menjadi gerbang masuk ke tempat keren itu.

Pernah ku cerita tentang kekagumanku pada hutan TNB dari kejauhan di “Si Mistis Romantis Pantai Remau”. Aku ingin masuk kedalamnya, melihat isinya, menghidu aromanya dan memeluk pohonnya. Wah, gila banget deh segitu ambisinya aku pada TNB pada waktu itu. Jadi, ku ceritakan rencana itu pada teman-teman di IG dan mendapat respon positif oleh mereka. Hanya karena persiapan belum matang dan kami belum se-full itu semangatnya, rencana itu melempam. Hahahaha.

Lalu, pada suatu hari Bos Ariel cerita bagaimana perjalanan liburannya bersama teman-teman alumni SPMA (Sekolah pertanian gaes)-nya ke Simpang Bungur, TN Berbak. Satu simpang lain yang letaknya di dekat Kecamatan Rantau Rasau. Beliau bilang, disana ada pohon gede banget dikelilingi jembatan kayu. Mendengar itu semangatku membara lagi. Lagi, di IG ku ceritakan rencana kesana dan respon positif tentu saja. (Gaes, sumpah aku bersyukur kenal kalian seumur hidupku). Dik juniorku di kantor (Besse Raden Ayu Lastari) bilang di punya teman orang TNB ni untuk bisa dapat izin masuk kesana. Sekarang tinggal mikirin ini alur perjalanannya kemana, pake apa dan siapa guidenya.

Lebaran Idul Fitri ke sekian, berangkatlah kami dari Sadu dengan sepeda motor kala itu. Aku dan adikku Dila, Via dan adiknya Udin, Ditha, Mita, Besse dan adiknya Luke, Herman dan Robi pada waktu berangkat dengan bawa bekal karena kami pikir di hutan tidak ada toko untuk belanja kalau-kalau lapar kan. Atas saran Yudha yang mengurus soal transportasi masuk kesana dan guidenya, kami ke Simpang Bungur melewati Sungai Palas, menuju Rasau Desa dan Sungai Rambut. Tidak ada jalan aspal disana dan sialnya ada beberapa jalan pada waktu itu rusak parah. Sepatu, celana apalagi motor habislah sudah terkena lumpur. Jenis tanah gambut yang berlubang dan berlumpur itu memaksa kami mendorong motor untuk melewatinya. Belum lagi kondisinya licin parah banget. Tapi ya, karena orang Sadu itu tangguh, kami melewati itu sambil ngakak dan sempat-sempatnya foto-foto. Bahkan ni sampai insiden kecelakaan gegara topinya si Ditha melayang. Hedeh. (Roby, maaf yo By. Khawatir pada waktu itu pulang kena rutuk Wak).

Di jalan anti mainstream itu, kami ketemu Yudha yang gerak dari Remau Baku Tuo. Setelah aman, lanjut kami ke perjalanan ke Sungai Rambut dimana jalannya sudah lumayan baik, lebar dan lurus. Sempat pula kami mampir ke rumah saudaranya Yudha buat lebaranan makan kue. Wkwkwk. Di sungai rambut, kami berhenti di pelabuhan untuk nungguin pamannya si Yudha yang bakal bawa kami ke Simpang bungur dengan kapal motor. Lima menit menunggu dan ditemani ibu-ibu yang sedang nongki akhirnya kapal motornya datang. Tapii, kamu tahu?. Ternyata kapal motor yang ku bayangkan berbeda banget dengan kapal yang datang. Ternyata bukan kapal motor (pompong) melainkan perahu ketek  gaes. Aku udah mulai  was-was karena kami pada waktu itu lebih sepuluh orang belum termasuk abang yang bawa anaknya dua orang. Ngerii euy. Tapi karena kata abangnya aman, kami percaya aja dan tetap ngelanjutin perjalanan. Nih ya, kalau bapak tahu aku ke  Simpang bungur dengan ketek kayak gini bakal gak diizinin.

Okee, dengan ketek yang biasa dipake buat nyeberangin motor dari Rasau Desa ke Rasau itu kami menyusuri sungai Batanghari yang luas (Mak ngeri-ngeri sedap kata orang melayu tu). Itu ya, dari dinding  ketek itu ke air Batanghari yang kecoklatan hanya sejengkal  gaes. Seriously!!. Selama perjalanan satu jam lebih memasuki kuala sungai ke Simpang Bungur, situasi makin terancam. Huhuhuhu. Sampe kepikir mau putar balik. Soalnya yang ngajak mereka itu kan aku.

Di awal masuk, ada gerbang bertuliskan Taman Nasional Berbak Sembilang dari besi diatas sungai. Beberapa monyet bermain di besi itu menatap kami yang mulai memasuki sungai dimanaaaa airnya udah berwarna hitam. Sungai selebar kira-kira lima meter itu kami susuri hingga makin dalam makin mengecil. Pohon-pohon kiri kanan seolah patung yang menatap kami kaku. Tidak ada suara lain selain suara mesin jenset ketek. Tidak ada yang berani bermain air di sepanjang jalan. Pohon yang tumbang hampir menutupi separuh sungai membuat kami takut. Sesekali abang ketek terlihat khawatir kipas keteknya patah karena terkena kayu. Dan seketika itu aku ingat sama film Anaconda yang di Kalimantan itu. Ya Allah, mata ini mulai was was ke pohon tepi sungai, lalu ke gerakan air sungai yang hitam, ke Eceng yang mulai menutupi sebagian sungai. Di lain hal selain ular Anaconda, yang ku pikirkan adalah bBuaya muara dan Sinyulong yang menjadikan TN Berbak sebagai rumahnyaa. Sempat pada saat itu si Besse kelupaan nurunin tangannya mau maen air, ditegur dan dia baru sadar. Hahaha. Cukup bertentang mata saja kami sama-sama tahu apa yang ada di sungai ini.

Ketek yang membawa kami dan sungainya yang eksotis

Satu jam kami menyusuri sungai kecil hitam dengan suara khas hutan dan nuansanya, akhirnya kami sampai ke Simpang Bungur dimana ada dermaga beton yang menjadi tempat kami berlabuh. Tak jauh dari sana kami ketemu kapal (pompong) yang lebih gede dimana ada abang-abang yang lagi mancing mania. Terus juga ada sepasang suami istri yang masuk menyusul kami dengan ketek kecilnya ke sungai yang lebih dalam.

Di dermaga itu langsung terhubung dengan jembatan kayu yang sengaja dibuat untuk ngelilingi hutan. Dan itu kereeeen banget. Masya Allah. Ada pos kecil tapi tertutup karena tidak ada orangnya. Terus ada tempat gede kayak aula tanpa atap yag kayaknya dijadiin tempat buat tegak tenda atau kegiatan lainnya deh. Jembatan itu teduh banget. Mengelilinginya butuh waktu sat jam deh kayaknya. Ada menara kayunya juga, daaaaan taraaaa ada pohon gedee yang diceritain bos Ariel dulu. Aku yang suka peluk-peluk pohon langsung turun ke bawah dan peluk dia (pohonnya) sekalian minta dipoto. Rasanya kalo bisa ngomong sama dia khan, mau ngucapin terima kasih telah ada dan bertahan selama ini. Beri udara bagus, jaga anak-anaknya, jaga aku, jaga kami. Bersyukur banget bisa ketemu dia ih. Senang pokoknya. Aku sampe lupa sama perjalanan susur sungai itu sebelummnya. Disana kami berfoto dong tentunya, menikmati hutan dengan jalan mulus jembatan kayu yang bagus, teduh, asri, udara segar dan suara hutan yang damai banget. Seriusan dah, kamu haru coba ke sini.

Pohon gedenya dan aku 

Di ujung jembatan lain yang menjadi dermaga


Bekal yang kami bawa makan disana, dibawah pohon di atas jembatan yang bersih. Itu seru banget. Sesuai dengan yang aku pikirkan dan aku impikan. Aku malah berpikir kalau menginap dan merasakan suasana malam di hutan keren kali ya?. Tapi mereka gak setuju. Hahaha.

Hampir dua-tiga jam kami disana, makan, solat dan berwudhu di ujung jembatan dimana airnya air coklat kehitaman. Agak ngeri ini ya takutnya lagi wudhu di sambar buaya. Ihh. Ngeri. Tapi mengesampingkan itu airnya sejuk banget dan itu cukup menenangkan menurutku.

Sehabis itu, kami pulaang. Menyusuri sungai hitam itu keluar dengan perasaan yang puas. Di perjalanan kami bertemu lagi dengan sepasang suami istri berusia lima puluhan tahun yang dengan bangganya memamerkan udang Galah hasil pancingannya tadi. Wah, nongki romantis ya mereka di TNBS. Keluar memasuki Sungai Batanghari, kami tak langsung pulang. Melainkan menyeberang ke desa seberang yang termasuk wilayah adminitratif Kecamatan Berbak. Ke tempat abang ketek hanya untuk apa?. yep, lebaranan. Disana kami berburu jambu biji yang banyak tumbuh di tepian sungai. Tak terjamah oleh masyarakat disana. Pulangnya, kami lalui kembali jalan tadi dengan aman karena cuaca panas pada hari itu dan tiba di rumah hampir magrib. Menikmati pemandangan hamparan sawah di Desa Simpang Datuk.

Aih seriusan deh, yang kuceritakan ini aslinya lebih seru. Karena sudah dua tahun, ada banyak momen yang sudah ku lupa. Setelah itu, kami berjanji buat menyusuri sungai di Simpang Malaka TN Berbak suatu saat nanti. Namun, setelah perjalanan ke dua kami ke Pantai Cemara sekaligus ke Simpang Malaka gagal, Kami tak berniat (maksudku) berani melanjutkannya lagi setelah ada orang hilang di dalam sana ketika  hendak memancing dan hingga saat ini gak ditemukan. Ahh, ngeri banget deh. Kalo kalian ke TN Berbak Sembilang, hati-hati ya. Sebelumnya minta izin dulu ke petugasnya biar aman dan jangan lupa pake atau bawa orang yang sudah biasa kesana. Yang tahu seluk beluknya juga.

Ah, ini udah larut lagi. Lagi dan lagi. Sepertinya blog ini memang dibuat khusus dini hari. Sekian ceritaku tentang Simpang Bungur. Tunggu cerita ngetripku lainnya yaaa. Tetap jaga kesehatan, ingat masih banyak negeri yang harus kita jelajahi dan kita lihat dengan mata kepala sendiri. Semoga pandemi ini semoga berakhir dan semoga aku masih punya banyak teman untuk ngetrip. Hahahaha

Siiyuuuu, babaiiii

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Ki-Ka : Luke, Roby, Udin, Mans, Yudha, Mita, Besse, Dila, Via, Ditha dan aku


Seleb caknya dah. huuhu

Kalian keren


Nb. Gaes yang ada di foto. Kalu kalian punya foto-foto masa perjalanan kita, silahkan tambahin daah

Selasa, 27 Oktober 2020

Sapu Lidi, Jerami Kering dan Aku Yang Enggan Mengayuh Sampan.


28 Oktober 2020, hari dimana setiap tahun orang-orang mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda di media sosial yang ia punya. Menyuarakan kepeduliannya akan itu, menyatakan hormatnya akan apa yang pemuda terdahulu lakukan hingga Sumpah Pemuda itu ada. Tapi banyak yang lupa esoknya. Hahaha.

Aku juga begitu.

Tapi hari ini, momen ini sejujurnya aku malu. Malu pada janjiku yang malas untuk ku tepati. Malu pada impianku yang dengan angkuhnya ku ceritakan pada Alien dulu dan malu pada senior-senior yang menaruh harapan padaku.

“Yen, aku mau memperkenalkan Sadu kepada orang-orang luar. Mereka harus tahu Sadu tak seburuk yang mereka pikir. Mereka harus tahu kami ada” itu kataku dulu pada Alien. Tapi sebenarnya yang aku lakukan hanya sebatas Sungai Itik saja. Aku ingin mengembalikan kejayaannya dulu. Tapi soal Sadu aku tidak berbohong. “Sekali dayung dua pulau terlampaui” kataku saat Alien memastikan rencanaku itu benar atau tidak.

Aku ingat, duduk aku berdua di sofa ruang tamu Pak Anjang Agus, berseberangan meja. Kala teman lain belum tiba. Dia menyadari gagasan terselubungku untuk mengembalikan Sungai Itik seperti dulu di Media Sosial. Dia yang telah lama menunggu hal itu, pada hari itu langsung memberiku tiket kesempatan untuk mewujudkan mimpi yang ku sombongkan di depan Alien. Menghimpun Pemuda Sadu yang mulai asik sendiri dengan telepon pintarnya, membuktikan bahwa kami Pemuda masa kini juga bisa beraksi seperti pemuda masa lalu.

Hah, sekarang menulis ini rasanya lucu banget. Dulu aku menggebu-gebu bak Jerami kering yang tersulut api. Didukung senior, bertemu pemuda-pemuda yang ternyata juga punya impian sama dan didukung oleh masyarakat dan pemerintah daerah. Keren banget. Ingat aku kalimat perumpamaan kala berbicara didepan Pemuda-Pemuda yang (ku pikir) membara semangatnya. Beberapa menit sebelum kami membentuk Organisasi Kepemudaaan yang kemudian secara Musyawarah kami sepakati dengan nama Gerakan Pemuda Sadu Bersatu.

“Kita pemuda ibarat sebuah lidi. Lidi dipakai menyapu apalah dayanya?. Dipakai untuk menyakiti orang, mudah saja. Tapi, kalau puluhan lidi dihimpun menjadi satu, ada gunanya. Kita ibarat lidi-lidi itu dan hari ini kita dihimpun dengan tujuan yang sama. Organisasi yang kita bentuk adalah pengikatnya. Ikat yang erat, jangan sampai terburai. Biar kita ada manfaatnya”.

Tahun-tahun awal aku senang, aku bangga. Ku banggakan itu pada Alien bahwa mimpiku terwujud. Meski dia bilang, kenapa bukan aku yang menjadi pemimpinnya. Karena aku tahu alur jalannya. Ku bilang, aku lebih senang menjadi tukang kayuh. Menjadi orang-orang dibelakang layar. Lagi pula Indonesia itu negara Demokrasi. Massa memilih bukan seberapa kompetennya kau, tapi seberapa terkenalnya dirimu dan seberapa dekat hubungan kekerabatan yang kau punya dengan mereka. Aku tahu, itu kenapa Alien tidak mau mengakui bahwa dirinya berasal dari bumi. Dia benci itu.

Kini, hampir tiga tahun setelah itu. Aku menjadi pecundang karena tidak melakukan apa-apa. Ikatan pada sapu lidi itu terlalu erat kurasa. Makanya dia putus dan lidi-lidi itu terburai. Aku terlalu naif menganggap bahwa pemuda kini dapat seperti pemuda masa lalu. Aku lupa peran media sosial dan ketergantungan akan hal itu membuat kehidupan sosial yang sebenarnya jauh dari yang aku harapkan. Bahkan aku lupa bahwa aku sendiri juga seperti itu.

Ah, jika dapat sampai suratku pada Alien disana, aku akan mengakui aku kalah. Mimpiku terlalu besar dan tak dapat aku taklukkan. Yang tersisa kini hanya rasa malu, pada mereka, pada kesombonganku dan pada diriku sendiri untuk list tahunan yang tak pernah terceklis. Aku merasa tidak pantas mengucapkan selamat untuk hari ini dan melakukan pencitraan dengan kata-kata sotoyku. Nyatanya, itu tak bisa memotivasi diriku sendiri. 

.




Yen, aku telah menyerah berkayuh. Bahkan perahu tunggalku pun enggan ku kayuh. Kubiarkan saja mengikuti arus. Barangkali juga jerami keringku telah habis, hingga tak ada lagi yang dapat ku bakar. Aku sedih untuk hidup biasa-biasaku ini. Aku sedih untuk harapan yang ku kubur dan mulai ku lupa. Aku juga sedih tidak ada kau yang menjadi tempat aku menyombongkan diri. Aku kalah dan tidak tahu mau mengadu kemana :’(


Jumat, 23 November 2018

Kerinci, Negeri Khayangan di Provinsi Jambi

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

Tulisanku datang lagi karena mood nulis lagi tinggi. Semoga kalian yang baca tulisan ini diberi semangat yaa untuk melanjutkan aktivitas hari ini. 

Danau Kerinci senja hari


Melihat draf rencana tahunan yang kubuat, Selain Project Dalam Negeri -yang berisi impian-impianku untuk memperkenalkan Sadu- aku juga punya project lain yang ku namai Project Katak dalam Tempurung. Project ini adalah project untuk mewujudkan mimpi-mimpiku ke luar dari tempurung. Yeay!. Jadi, dalam setahun minimal ada satu Project keluar dari Sadu dan belajar banyak hal lebih real di tempat itu. Bisa dibilang, ini project jalan-jalan keliling Indonesia -meski terlihat ngimpi-.


Kerinci!.


Meski masih di dalam Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Kerinci udah termasuk project yang amazing banget. Ini project ke tiga ku setelah yang pertama kalinya ada Banyuasin -yang ternyata isinya sama kayak sadu- dan ke Bangko yang endingnya haru biru. Aku ke kerinci ini bareng bos dan teman-teman kantor di BP3K Sadu tiga tahun yang lalu (Akhir 2016). Tujuannya kayak Field Trip gitu lah. Waktu itu kami berangkat satu mobil setelah acara tahunan Penyuluh, Temu Teknis. Ada bos, Pak Asril, Bang Bambang -Kasubag TU-, dua brother si Heri dan Sudik serta Pak Ketut. Emang aku cewek sorang-sorang, karena pada waktu itu emang aku satu-satunya penyuluh perempuan di Sadu. Kalo mikir itu aku gak jalan-jalan. Lagi pula mereka itu udah kayak keluarga di kantor.

Kami berangkat pagi sekali, sekitar jam setengah enam gitulah. Sebelum berangkat aku udah di bully duluan sama dua tukang bully Heri dan Kak Sudik. Suruh minum Antimo, nanti mabuk karena perjalanan bakal jauh. Uh, mereka remeh banget dah. Emang ya, orang laut sanggup naik kapal laut berjam-jam gak mabuk laut. Tapi di darat, belum tentu loh. Aku karena udah lama di kampung, gak pernah naek mobil lagi -seringnya naek speedboat sama pompong- khawatir juga. Jadi, nurut aja saran mereka untuk minum Antimo. Hahahaaha.

Selama perjalanan kami mampir-mampir ke beberapa tempat. Sarapan di rumah saudaranya Bang Bambang, Makan siang dirumah saudaranya Bos. Kata Bang bambang, jadi penyuluh itu kalo jalan-jalan kayak gini jangan takut lapar atau gak ada tempat nginap. Setiap desa di Indonesia ada penyuluhnya, kalo nyasar atau butuh bantuan hubungi saja penyuluhnya. Mereka pasti bantu. Bahkan katanya hubungan antar penyuluh lebih akrab daripada hubungan antar guru. Kalau di fikir-fikir ya, hampir semua penyuluh itu suka ngota (maksudnya suka ngobrol gitu loh -karena emang kerja kan gitu sama petani-), penyuluh juga suka berkenalan dengan orang-orang baru (karena kebiasaan kerjanya kayak gitu -wilayah baru, orang baru, keluarga-). Jadi kayaknya wajar kalau dia ngomong begitu. Tapi aku belum pernah coba. Hahahaha

Sebelum sampai ke Kerinci, Kami ke Geopark Merangin dulu. Geopark Merangin itu katanya tempat situs warisan peninggalan zaman purba (baru baca di gugel setelah pulang). Sewaktu kesana, aku gak

mikir bakal lihat batu-batu tua atau apa lah itu. Sampe sana aku takjub ada banyak pohon, hutan dan sungai berarus deras dengan bebatuan di dasarnya. Ini, persis banget dengan imajinasiku di novel My Stupid Brain's Story. Suara angin, suara sungai, suara burung, damaiiii baeudd. Rasanya aku mau bangun rumah di sana. Hohoho. Maklum lah, orang tepi laut kan emang gak pernah lihat kayak ginian.

Setelah puas ngambil bukti pernah ke sana, kami melanjutkan perjalanan. Nah perjalanan selanjutnya ini buat aku takjub takjub dan takjub banget. Jalanan yang berkelok, turun naik bahkan sampe telinga ngilu buatku ngucap. Subhanallah -Maha suci Allah-, rasanya terharu, pengen nangis eh, dahan-dahan pohon yang besar tumbuh di bawah tebing, di bawahnya sungai, di seberangnya mereka tumbuh menentramkan hati. Mereka kayak manusia yang hidup dengan wajah polos sepolos-polosnya. Rasanya pengen peluk, pengen ah padahal itu cuma pohon loh. Trus dari kejauhan bukit-bukit terlihat dari jauh, jalan yang kami lewati kayak ular yang sebagian hilang di balik bukit.


Di sepanjang perjalanan emang gak pernah berenti ngucap. Rasanya bersyukur banget masih di kasih Allah kesempat untuk melihat keindahan seperti ini. Rasanya, ini bukan di dunia. Emang ini terlihat lebay banget deh. Tapi, bagi orang laut yang tiap hari lihat sungai, laut, pantai, melihat sesuatu yang beda dan gak ada di tempatnya pasti akan takjub seperti ini. Kalau pun ada yang gak selebay itu, berarti aku emang benar-benar katak dalam tempurung akut!.

Duo tukang bully sempat bully katanya aku norak. Hahaha, masa bodoh lah. Memasuki perbatasan Kerinci, mereka udah senyap. Si Heri udah KO manggil Wak. Aku masih sempat bantu nyariin Salon Pas sebelum dia manggil Wak-nya. Kak Sudik udah pucat pasi, entah karena kedinginan atau gimana gak tau lah. Dipasangin Salon Pas juga sama Pak Ketut yang duduk di belakangnya. Setiba kami di perbatasan Kerinci -yang ada tulisan Kabupaten Kerinci itu loh- kami istirahat dan akhirnya Kak sudik manggil Waknya juga sembunyi-sembunyi tapi katehuan. Ngakak so hard. Tukang Bully yang kena batunya mereka. Hahahahaha.


Putih-putih itu bukan sarang laba-laba loh, tapi plastik hurufnya belum dilepas



Emang ya ke Kerinci harus punya mental dan nyali kuat. Jalannya berkelok-kelok. Kiri tebing, kanan jurang. Wajar deh, kalo dalam perjalanan ini ada yang mabuk. Beruntungnya aku aman hahhaaha -mungkin karena fokusku keganti sama pohon dan bukit di sepanjang jalan-.


Jam lima sore kami sampe ke Danau Kerinci. Udaranya dingin banget, kalo di Sadu kayak hujan deras gitu. Kami mampir sebentar dan foto-foto disana. Menjelang Magrib kami melanjutkan perjalanan ke rumah saudaranya Bos dan menginap disana.


Danau Kerinci - saja foto tangan biar bukti kalo foto ini bukan nyomot di gugel


Mandi?. Skip!!


Aku yakin perjalanan kami gak keringatan kok. Hahaha. Duh, dingin banget. Aku suka kerinci, tapi aku gak sanggup dingin kayak gini. Padahal kata Bos, dulu kerinci lebih dingin dari ini. Air minumnya dingin loh kayak minum es. Trus, alas kasur dan selimut yang di sediain kayak habis di masukin kulkas. Aku yang tiap hari berpanas-panasan sampe 34' celcius trus ketemu dengan suhu dingin Kerinci -16'C - 24'C- rasanya belum bisa beradaptasi. Pagi-paginya disuruh mandi karena mau jalan-jalan. Itu nyiksa banget!. Huhuhu.


Makan malam di Kerinci - (ki-ka) : Aku, Heri, Kak Sudik, Bang Bambang - Yang motoin Pak Ketut


Bangun pagi, aku buka jendela rumah dan sekali lagi aku takjub!. Rumah saudaranya Bos ini kayak rumah lama, panggung dari kayu. Jadi, pas buka jendela atap-atap rumah tetangganya kelihatan dan bukit dibelakangnya juga terlihat lebih dekat. Lalu, awan-awan turun seolah dapat dicapai dengan tangan. Ya Allah, aku di ketinggian berapa meter ini sampe bisa lihat awan sedekat ini. Ini keren banget, menginspirasi dan aku akui untuk pertama kalinya aku terbesit ingin punya rumah di Kerinci! -mengabaikan suhunya yang dingin-.


Penampakan Bukit dan awan yang turun dari jendela



Pagi sekali kami jalan-jalan ke BP3K Pondok Tinggi Kabupaten Sungai Penuh. Setauku, sungai Penuh dulu masuk kabupaten Kerinci. Trus pemekaran daerah gitu. Jadi BP3K yang kami datangi ini ada di Kabupaten Sungai Penuh. BP3K Pondok Tinggi waktu itu baru saja di bangun dan belum di resmikan. Disana kami di sambut sama penyuluh-penyuluh dari Pondok Tinggi. Banyak ceweknya loh, kan seru. Jadi, selama di ajak mereka jalan-jalan, aku di tarik ikut ke mobil mereka. Ada ibu Kepala BP3Knya bu El (Kalo gak salah, benar), kami sempat mampir kerumahnya dulu dan melihat pemanfaatan pekarangan rumahnya yang apik banget. Udah kayak di buku Bahasa Indonesia jaman dulu. Didepannya teras, viewnya sawah dan bukit hijau. Dibelakang rumahnya ada kolam ikan dan ternak unggas. Keren deh.

Kami Diajak jalan ke perkebunan kopi petani. Sambil kesana, kami mampir ke Bukit Khayangan. Di bukit khayangan aku spechless melihat jalan yang kami lewati sebelumnya mengecil di bawah sana. Danau Kerinci terlihat dari atas sini. Padahal tempat kami menginap di tepi Danau Kerinci loh. Mungkin bukit yang ku lihat dari jendela itu, ini kali ya. Wih, keren bangeett!.


Danau Kerinci dari Bukit Khayangan seolah dapat disentuh dengan tangan


Puas ke Bukit Khayangan, kami menuju ke wilayah perkebunan kopi milik Petani di Pondok Tinggi. Perjalanan kami selama dan sejauh itu -bahkan menuju ke perkebunan masyarakat- kami lewati dengan mulus karena jalannya aspal sampe sana. Keren kan?. Nyuluh tanpa hambatan ini mah. Disana kami menemui petani kopi yang telah membesarkan kopinya seperti anak sendiri -eh-. Aku gak tanya-tanya sih kayak yang lain, aku lebih ke nyari lokasi foto, mengamati tempat baru dan curi dengar sedikit. Bapak ini kakinya di patuk ular loh. Katanya udah dua hari tapi gak di bawa berobat. Itu kakinya diikat doang pake kain. Duh, serasa Oom Hazen Audel  yang udah ahli banget di alam bebas. Saking nyantainya, masih bisa ngepul itu loh rokoknya. Emang gak sakit apa ya?. Jadi, karena curi dengar cerita bapak itu, aku yang keliling-keling mengamati spot bagus jadi ngeri mau kemana-mana. Kalau katanya di patuk ular itu tandanya mau nikah, itu artinya ngimpi!.

Pak Bos, Penyuluh teladan di Kecamatan Pondok Tinggi, Petani Kopi dan Ibu El Kepala BP3K Pondok Tinggi.


Di sana, Kebun Kopi jadi primadona petani. Sama Halnya Pinang yang jadi primadona di Sadu. Beberapa tempat ada yang alih fungsi lahan dari perkebunan Teh menjadi Kopi (Kalo gak salah lihat lah ya). Emang kayaknya yang minat kopi lebih banyak dari pada teh. Cowok-cowok cool itu ngopi, bukan ngeteh. Buktinya Chicco Jericho kan gitu ya?. 

Sehabis dari Kebun Kopi kami ke Stand Kopi yang di kelola oleh kelompok tani Kayo. Tingkatan mereka udah tinggi dari petani yang ada di Kecamatanku dengan mengelola hasil pertanian (kopi) mereka dan memasarkannya langsung. Jadi, harga sepenuhnya mereka yang nentukan dan gak tertekan dengan aturan pengumpul/toke. Mereka udah pake kartu nama, itu tandanya usaha mereka udah skala besar. Kami di Ajak melihat pengolahan kopi mereka, trus produk-produk yang mereka hasilkan dalam kemasan dan berkesempatan nyicip kopi yang katanya udah di pasarkan ke luar Sumatera. Keren!.

(ki-ka) : Bu En, Bang Bambang dan Ibu El memasuki ruangan pengelolaan kopi.

Si bapak buat kopinya dengan perasaan. Kayak lagi lomba dan di lihatin juri gitu ya. 

Nih kopinya warnanya kemerahan gini, bukan kayak yang biasa aku lihat.


Jadi, rasa kopinya asem. Hahahah. Sebenarnya aku alumni penikmat kopi hitam -sekarang udah pensiun gegara maag-. Tapi, taunya kopi AAA doang sama kopi buatan tangan nek jaman dulu. Kalo dibilang mungkin kopi jenis ini lagi tren-trennya ya. Tapi, sorry to say aku lebih suka kopi yang biasa di minum datuk dan petani-petaniku di kampung. Pahit, manis dan pekat.

Sehabis itu, kami jalan-jalan lagi ke ketemu petani kentang, petani bawang, dan petani lainnya. Bagi kamu yang gak tau, hampir sebagian besar sayuran yang kita konsumsi di Jambi emang berasal dari sana. Tomat, Cabe, Bawang, Kentang, Wortel, banyak lagi. Kalau ku bilang Kerinci -dan Sungai Penuh- adalah negeri khayangan, ya apa yang telah kulihat dan ku rasakan itu mewakili dan membenarkan semuanya. 

Pulangnya kami sempat mengunjungi Kayu Aro. Tempat yang dulu pengen aku datangi bareng babang Vino G Bastian. Ternyata di Kayu Aro lebih dingin dari yang kami duga. Mungkin karena cuaca pada saat itu gerimis, jadi suhunya dingin banget kayak malam kemarin. Awan-awan turun jadi kayak kabut. Aku ngebayangi film Twilligh dan film Vampire sejenisnya yang setting tempatnya minim cahaya matahari kayak gini. Ditambah lagi perkebunan teh yang tersusun kaku disepanjang perjalanan kami. Kayak di tatapin gitu loh. 

Tujuannya mau ke pemandian air panas, tapi berhubung ternyata kendali berada di bawah tanganku, akhirnya putar balik ke rumah saudara Bos. Tapi sebelum itu sempat mampir ke rumah penyuluh juga temannya bang Bambang dan kami cees bertiga menunggu boring mereka nostalgia semasa SPMA (seharusnya kita nostalgia juga masa kuliah tiga tahun lalu). Akhirnya pulang malam dan larut banget sampe rumah. Karena permintaanku juga mereka membatalkan niatnya untuk langsung ke Padang. Kayak simalakama, mau gimana lagi, lusa udah nikahnya kakak sahabatku (Kak Mah) udah di beliin baju bridesmaid (Baju kopel maksudnya loh) masa gak datang. Sementara mereka (aku juga sih) merasa aku perjalanan ini gak cukup. Belum puas rasanya lama-lama di sini (Maafkan Wina ya man teman, kalo kalian kebaca tulisan ini).

Subuhnya, kami pulang. dalam keadaan ngantuk dipaksa juga pulang biar bisa sampe sadu besoknya. Si Sastra (Menantunya Bos) yang bawa mobil patut di acungi jempol lah. Meski pada suatu kejadian kami hampir tabrakan sama minibus yang kayaknya ngantuk pas bawa mobil. Mana tepinya jurang lagi Ya Allah. Aku yang kaget dan was-was setelahnya teralihkan melihat awan-awan yang turun dan bisa ku sentuh dengan tangan. Aku bahkan mengabaikan mereka yang didalam mobil masih tidur, kedinginan karena aku buka kaca mobil.  Rasanya, uhhh ini benar-benar khayangan. Menulis ini aku masih ingat suasananya ketika itu, aromanya, dinginnya, awan-awan yang menggumpal berarakan, pohon-pohon dan lambaiannya. Seolah bilang "Kembali lagi kesini yaa"

"Ya, kalau ada orang Kerinci yang melamar" Bahahahahahaaha

Lah, ini udah pagi lagi. 
Cerita Project Katak Dalam Tempurung ini aku akhiri.
Aku berharap, suatu saat aku bisa ke Kerinci lagi.

Terimakasih sudah membaca. Tinggalkan jejak untuk ceritaku ini jika kamu berminat. Kritik, saran untuk tulisan ini dengan selapang-lapangnya dibuka.

Sampai jumpa di cerita Project Katak Dalam Tempurung-ku yang lain. Babaiiii.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 🤗