Tampilkan postingan dengan label Project Katak Dalam Tempurung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Project Katak Dalam Tempurung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Agustus 2021

Tamasya Raya, Simpang Bungur Taman Nasional Berbak Sembilang


Sok asik banget gaya ayuk yang neplok ke tiang itu. 


Hullaa….

Haii, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhhhh.

Ih, gak nyangka ya akhirnya ketemu lagi kita. Disaat aku lagi sibuk-sibuknya berperang (Cia ilaa, perang) dan menyamankan diri dan hati setelah mencurahkan semua perasaan (gitu kan ya) akhirnya aku menyempatkan diri menulis lagi disini.

Kali ini akuu akan cerita tentang perjalananku yang udah lamaaa banget. Jauh sebelum babang covid-19 datang dan jauh sebelum akhirnya aku berada di negeri Tali Undang Tambang Teliti, Merangin. Cerita perjalananku ini masuk dalam salah satu cerita kerenku sejauh ini. Yep, Ngetrip ke Simpang Bungur Taman Nasional Berbak Sembilang.

Oraitt, FYI Taman Nasional Berbak Sembilang itu ada di Provinsi Jambi (kayaknya Sumsel juga deh). Dekat banget dengan tempurungku, Sadu. Nah, awalnya saat pertama kali aku ngelihat fotonya Camat Sadu pada waktu itu Pak Helmi Agustinius di Simpang Malaka Taman Nasional Berbak. Pemandangan kiri kanan hutan dan jembatan kayu di dalam hutan itu keren banget. Seriusan dah. Selama seperempat abad aku hidup di Sadu aku baru tahu kalau di Air Hitam Laut menjadi gerbang masuk ke tempat keren itu.

Pernah ku cerita tentang kekagumanku pada hutan TNB dari kejauhan di “Si Mistis Romantis Pantai Remau”. Aku ingin masuk kedalamnya, melihat isinya, menghidu aromanya dan memeluk pohonnya. Wah, gila banget deh segitu ambisinya aku pada TNB pada waktu itu. Jadi, ku ceritakan rencana itu pada teman-teman di IG dan mendapat respon positif oleh mereka. Hanya karena persiapan belum matang dan kami belum se-full itu semangatnya, rencana itu melempam. Hahahaha.

Lalu, pada suatu hari Bos Ariel cerita bagaimana perjalanan liburannya bersama teman-teman alumni SPMA (Sekolah pertanian gaes)-nya ke Simpang Bungur, TN Berbak. Satu simpang lain yang letaknya di dekat Kecamatan Rantau Rasau. Beliau bilang, disana ada pohon gede banget dikelilingi jembatan kayu. Mendengar itu semangatku membara lagi. Lagi, di IG ku ceritakan rencana kesana dan respon positif tentu saja. (Gaes, sumpah aku bersyukur kenal kalian seumur hidupku). Dik juniorku di kantor (Besse Raden Ayu Lastari) bilang di punya teman orang TNB ni untuk bisa dapat izin masuk kesana. Sekarang tinggal mikirin ini alur perjalanannya kemana, pake apa dan siapa guidenya.

Lebaran Idul Fitri ke sekian, berangkatlah kami dari Sadu dengan sepeda motor kala itu. Aku dan adikku Dila, Via dan adiknya Udin, Ditha, Mita, Besse dan adiknya Luke, Herman dan Robi pada waktu berangkat dengan bawa bekal karena kami pikir di hutan tidak ada toko untuk belanja kalau-kalau lapar kan. Atas saran Yudha yang mengurus soal transportasi masuk kesana dan guidenya, kami ke Simpang Bungur melewati Sungai Palas, menuju Rasau Desa dan Sungai Rambut. Tidak ada jalan aspal disana dan sialnya ada beberapa jalan pada waktu itu rusak parah. Sepatu, celana apalagi motor habislah sudah terkena lumpur. Jenis tanah gambut yang berlubang dan berlumpur itu memaksa kami mendorong motor untuk melewatinya. Belum lagi kondisinya licin parah banget. Tapi ya, karena orang Sadu itu tangguh, kami melewati itu sambil ngakak dan sempat-sempatnya foto-foto. Bahkan ni sampai insiden kecelakaan gegara topinya si Ditha melayang. Hedeh. (Roby, maaf yo By. Khawatir pada waktu itu pulang kena rutuk Wak).

Di jalan anti mainstream itu, kami ketemu Yudha yang gerak dari Remau Baku Tuo. Setelah aman, lanjut kami ke perjalanan ke Sungai Rambut dimana jalannya sudah lumayan baik, lebar dan lurus. Sempat pula kami mampir ke rumah saudaranya Yudha buat lebaranan makan kue. Wkwkwk. Di sungai rambut, kami berhenti di pelabuhan untuk nungguin pamannya si Yudha yang bakal bawa kami ke Simpang bungur dengan kapal motor. Lima menit menunggu dan ditemani ibu-ibu yang sedang nongki akhirnya kapal motornya datang. Tapii, kamu tahu?. Ternyata kapal motor yang ku bayangkan berbeda banget dengan kapal yang datang. Ternyata bukan kapal motor (pompong) melainkan perahu ketek  gaes. Aku udah mulai  was-was karena kami pada waktu itu lebih sepuluh orang belum termasuk abang yang bawa anaknya dua orang. Ngerii euy. Tapi karena kata abangnya aman, kami percaya aja dan tetap ngelanjutin perjalanan. Nih ya, kalau bapak tahu aku ke  Simpang bungur dengan ketek kayak gini bakal gak diizinin.

Okee, dengan ketek yang biasa dipake buat nyeberangin motor dari Rasau Desa ke Rasau itu kami menyusuri sungai Batanghari yang luas (Mak ngeri-ngeri sedap kata orang melayu tu). Itu ya, dari dinding  ketek itu ke air Batanghari yang kecoklatan hanya sejengkal  gaes. Seriously!!. Selama perjalanan satu jam lebih memasuki kuala sungai ke Simpang Bungur, situasi makin terancam. Huhuhuhu. Sampe kepikir mau putar balik. Soalnya yang ngajak mereka itu kan aku.

Di awal masuk, ada gerbang bertuliskan Taman Nasional Berbak Sembilang dari besi diatas sungai. Beberapa monyet bermain di besi itu menatap kami yang mulai memasuki sungai dimanaaaa airnya udah berwarna hitam. Sungai selebar kira-kira lima meter itu kami susuri hingga makin dalam makin mengecil. Pohon-pohon kiri kanan seolah patung yang menatap kami kaku. Tidak ada suara lain selain suara mesin jenset ketek. Tidak ada yang berani bermain air di sepanjang jalan. Pohon yang tumbang hampir menutupi separuh sungai membuat kami takut. Sesekali abang ketek terlihat khawatir kipas keteknya patah karena terkena kayu. Dan seketika itu aku ingat sama film Anaconda yang di Kalimantan itu. Ya Allah, mata ini mulai was was ke pohon tepi sungai, lalu ke gerakan air sungai yang hitam, ke Eceng yang mulai menutupi sebagian sungai. Di lain hal selain ular Anaconda, yang ku pikirkan adalah bBuaya muara dan Sinyulong yang menjadikan TN Berbak sebagai rumahnyaa. Sempat pada saat itu si Besse kelupaan nurunin tangannya mau maen air, ditegur dan dia baru sadar. Hahaha. Cukup bertentang mata saja kami sama-sama tahu apa yang ada di sungai ini.

Ketek yang membawa kami dan sungainya yang eksotis

Satu jam kami menyusuri sungai kecil hitam dengan suara khas hutan dan nuansanya, akhirnya kami sampai ke Simpang Bungur dimana ada dermaga beton yang menjadi tempat kami berlabuh. Tak jauh dari sana kami ketemu kapal (pompong) yang lebih gede dimana ada abang-abang yang lagi mancing mania. Terus juga ada sepasang suami istri yang masuk menyusul kami dengan ketek kecilnya ke sungai yang lebih dalam.

Di dermaga itu langsung terhubung dengan jembatan kayu yang sengaja dibuat untuk ngelilingi hutan. Dan itu kereeeen banget. Masya Allah. Ada pos kecil tapi tertutup karena tidak ada orangnya. Terus ada tempat gede kayak aula tanpa atap yag kayaknya dijadiin tempat buat tegak tenda atau kegiatan lainnya deh. Jembatan itu teduh banget. Mengelilinginya butuh waktu sat jam deh kayaknya. Ada menara kayunya juga, daaaaan taraaaa ada pohon gedee yang diceritain bos Ariel dulu. Aku yang suka peluk-peluk pohon langsung turun ke bawah dan peluk dia (pohonnya) sekalian minta dipoto. Rasanya kalo bisa ngomong sama dia khan, mau ngucapin terima kasih telah ada dan bertahan selama ini. Beri udara bagus, jaga anak-anaknya, jaga aku, jaga kami. Bersyukur banget bisa ketemu dia ih. Senang pokoknya. Aku sampe lupa sama perjalanan susur sungai itu sebelummnya. Disana kami berfoto dong tentunya, menikmati hutan dengan jalan mulus jembatan kayu yang bagus, teduh, asri, udara segar dan suara hutan yang damai banget. Seriusan dah, kamu haru coba ke sini.

Pohon gedenya dan aku 

Di ujung jembatan lain yang menjadi dermaga


Bekal yang kami bawa makan disana, dibawah pohon di atas jembatan yang bersih. Itu seru banget. Sesuai dengan yang aku pikirkan dan aku impikan. Aku malah berpikir kalau menginap dan merasakan suasana malam di hutan keren kali ya?. Tapi mereka gak setuju. Hahaha.

Hampir dua-tiga jam kami disana, makan, solat dan berwudhu di ujung jembatan dimana airnya air coklat kehitaman. Agak ngeri ini ya takutnya lagi wudhu di sambar buaya. Ihh. Ngeri. Tapi mengesampingkan itu airnya sejuk banget dan itu cukup menenangkan menurutku.

Sehabis itu, kami pulaang. Menyusuri sungai hitam itu keluar dengan perasaan yang puas. Di perjalanan kami bertemu lagi dengan sepasang suami istri berusia lima puluhan tahun yang dengan bangganya memamerkan udang Galah hasil pancingannya tadi. Wah, nongki romantis ya mereka di TNBS. Keluar memasuki Sungai Batanghari, kami tak langsung pulang. Melainkan menyeberang ke desa seberang yang termasuk wilayah adminitratif Kecamatan Berbak. Ke tempat abang ketek hanya untuk apa?. yep, lebaranan. Disana kami berburu jambu biji yang banyak tumbuh di tepian sungai. Tak terjamah oleh masyarakat disana. Pulangnya, kami lalui kembali jalan tadi dengan aman karena cuaca panas pada hari itu dan tiba di rumah hampir magrib. Menikmati pemandangan hamparan sawah di Desa Simpang Datuk.

Aih seriusan deh, yang kuceritakan ini aslinya lebih seru. Karena sudah dua tahun, ada banyak momen yang sudah ku lupa. Setelah itu, kami berjanji buat menyusuri sungai di Simpang Malaka TN Berbak suatu saat nanti. Namun, setelah perjalanan ke dua kami ke Pantai Cemara sekaligus ke Simpang Malaka gagal, Kami tak berniat (maksudku) berani melanjutkannya lagi setelah ada orang hilang di dalam sana ketika  hendak memancing dan hingga saat ini gak ditemukan. Ahh, ngeri banget deh. Kalo kalian ke TN Berbak Sembilang, hati-hati ya. Sebelumnya minta izin dulu ke petugasnya biar aman dan jangan lupa pake atau bawa orang yang sudah biasa kesana. Yang tahu seluk beluknya juga.

Ah, ini udah larut lagi. Lagi dan lagi. Sepertinya blog ini memang dibuat khusus dini hari. Sekian ceritaku tentang Simpang Bungur. Tunggu cerita ngetripku lainnya yaaa. Tetap jaga kesehatan, ingat masih banyak negeri yang harus kita jelajahi dan kita lihat dengan mata kepala sendiri. Semoga pandemi ini semoga berakhir dan semoga aku masih punya banyak teman untuk ngetrip. Hahahaha

Siiyuuuu, babaiiii

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Ki-Ka : Luke, Roby, Udin, Mans, Yudha, Mita, Besse, Dila, Via, Ditha dan aku


Seleb caknya dah. huuhu

Kalian keren


Nb. Gaes yang ada di foto. Kalu kalian punya foto-foto masa perjalanan kita, silahkan tambahin daah

Jumat, 23 November 2018

Kerinci, Negeri Khayangan di Provinsi Jambi

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

Tulisanku datang lagi karena mood nulis lagi tinggi. Semoga kalian yang baca tulisan ini diberi semangat yaa untuk melanjutkan aktivitas hari ini. 

Danau Kerinci senja hari


Melihat draf rencana tahunan yang kubuat, Selain Project Dalam Negeri -yang berisi impian-impianku untuk memperkenalkan Sadu- aku juga punya project lain yang ku namai Project Katak dalam Tempurung. Project ini adalah project untuk mewujudkan mimpi-mimpiku ke luar dari tempurung. Yeay!. Jadi, dalam setahun minimal ada satu Project keluar dari Sadu dan belajar banyak hal lebih real di tempat itu. Bisa dibilang, ini project jalan-jalan keliling Indonesia -meski terlihat ngimpi-.


Kerinci!.


Meski masih di dalam Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Kerinci udah termasuk project yang amazing banget. Ini project ke tiga ku setelah yang pertama kalinya ada Banyuasin -yang ternyata isinya sama kayak sadu- dan ke Bangko yang endingnya haru biru. Aku ke kerinci ini bareng bos dan teman-teman kantor di BP3K Sadu tiga tahun yang lalu (Akhir 2016). Tujuannya kayak Field Trip gitu lah. Waktu itu kami berangkat satu mobil setelah acara tahunan Penyuluh, Temu Teknis. Ada bos, Pak Asril, Bang Bambang -Kasubag TU-, dua brother si Heri dan Sudik serta Pak Ketut. Emang aku cewek sorang-sorang, karena pada waktu itu emang aku satu-satunya penyuluh perempuan di Sadu. Kalo mikir itu aku gak jalan-jalan. Lagi pula mereka itu udah kayak keluarga di kantor.

Kami berangkat pagi sekali, sekitar jam setengah enam gitulah. Sebelum berangkat aku udah di bully duluan sama dua tukang bully Heri dan Kak Sudik. Suruh minum Antimo, nanti mabuk karena perjalanan bakal jauh. Uh, mereka remeh banget dah. Emang ya, orang laut sanggup naik kapal laut berjam-jam gak mabuk laut. Tapi di darat, belum tentu loh. Aku karena udah lama di kampung, gak pernah naek mobil lagi -seringnya naek speedboat sama pompong- khawatir juga. Jadi, nurut aja saran mereka untuk minum Antimo. Hahahaaha.

Selama perjalanan kami mampir-mampir ke beberapa tempat. Sarapan di rumah saudaranya Bang Bambang, Makan siang dirumah saudaranya Bos. Kata Bang bambang, jadi penyuluh itu kalo jalan-jalan kayak gini jangan takut lapar atau gak ada tempat nginap. Setiap desa di Indonesia ada penyuluhnya, kalo nyasar atau butuh bantuan hubungi saja penyuluhnya. Mereka pasti bantu. Bahkan katanya hubungan antar penyuluh lebih akrab daripada hubungan antar guru. Kalau di fikir-fikir ya, hampir semua penyuluh itu suka ngota (maksudnya suka ngobrol gitu loh -karena emang kerja kan gitu sama petani-), penyuluh juga suka berkenalan dengan orang-orang baru (karena kebiasaan kerjanya kayak gitu -wilayah baru, orang baru, keluarga-). Jadi kayaknya wajar kalau dia ngomong begitu. Tapi aku belum pernah coba. Hahahaha

Sebelum sampai ke Kerinci, Kami ke Geopark Merangin dulu. Geopark Merangin itu katanya tempat situs warisan peninggalan zaman purba (baru baca di gugel setelah pulang). Sewaktu kesana, aku gak

mikir bakal lihat batu-batu tua atau apa lah itu. Sampe sana aku takjub ada banyak pohon, hutan dan sungai berarus deras dengan bebatuan di dasarnya. Ini, persis banget dengan imajinasiku di novel My Stupid Brain's Story. Suara angin, suara sungai, suara burung, damaiiii baeudd. Rasanya aku mau bangun rumah di sana. Hohoho. Maklum lah, orang tepi laut kan emang gak pernah lihat kayak ginian.

Setelah puas ngambil bukti pernah ke sana, kami melanjutkan perjalanan. Nah perjalanan selanjutnya ini buat aku takjub takjub dan takjub banget. Jalanan yang berkelok, turun naik bahkan sampe telinga ngilu buatku ngucap. Subhanallah -Maha suci Allah-, rasanya terharu, pengen nangis eh, dahan-dahan pohon yang besar tumbuh di bawah tebing, di bawahnya sungai, di seberangnya mereka tumbuh menentramkan hati. Mereka kayak manusia yang hidup dengan wajah polos sepolos-polosnya. Rasanya pengen peluk, pengen ah padahal itu cuma pohon loh. Trus dari kejauhan bukit-bukit terlihat dari jauh, jalan yang kami lewati kayak ular yang sebagian hilang di balik bukit.


Di sepanjang perjalanan emang gak pernah berenti ngucap. Rasanya bersyukur banget masih di kasih Allah kesempat untuk melihat keindahan seperti ini. Rasanya, ini bukan di dunia. Emang ini terlihat lebay banget deh. Tapi, bagi orang laut yang tiap hari lihat sungai, laut, pantai, melihat sesuatu yang beda dan gak ada di tempatnya pasti akan takjub seperti ini. Kalau pun ada yang gak selebay itu, berarti aku emang benar-benar katak dalam tempurung akut!.

Duo tukang bully sempat bully katanya aku norak. Hahaha, masa bodoh lah. Memasuki perbatasan Kerinci, mereka udah senyap. Si Heri udah KO manggil Wak. Aku masih sempat bantu nyariin Salon Pas sebelum dia manggil Wak-nya. Kak Sudik udah pucat pasi, entah karena kedinginan atau gimana gak tau lah. Dipasangin Salon Pas juga sama Pak Ketut yang duduk di belakangnya. Setiba kami di perbatasan Kerinci -yang ada tulisan Kabupaten Kerinci itu loh- kami istirahat dan akhirnya Kak sudik manggil Waknya juga sembunyi-sembunyi tapi katehuan. Ngakak so hard. Tukang Bully yang kena batunya mereka. Hahahahaha.


Putih-putih itu bukan sarang laba-laba loh, tapi plastik hurufnya belum dilepas



Emang ya ke Kerinci harus punya mental dan nyali kuat. Jalannya berkelok-kelok. Kiri tebing, kanan jurang. Wajar deh, kalo dalam perjalanan ini ada yang mabuk. Beruntungnya aku aman hahhaaha -mungkin karena fokusku keganti sama pohon dan bukit di sepanjang jalan-.


Jam lima sore kami sampe ke Danau Kerinci. Udaranya dingin banget, kalo di Sadu kayak hujan deras gitu. Kami mampir sebentar dan foto-foto disana. Menjelang Magrib kami melanjutkan perjalanan ke rumah saudaranya Bos dan menginap disana.


Danau Kerinci - saja foto tangan biar bukti kalo foto ini bukan nyomot di gugel


Mandi?. Skip!!


Aku yakin perjalanan kami gak keringatan kok. Hahaha. Duh, dingin banget. Aku suka kerinci, tapi aku gak sanggup dingin kayak gini. Padahal kata Bos, dulu kerinci lebih dingin dari ini. Air minumnya dingin loh kayak minum es. Trus, alas kasur dan selimut yang di sediain kayak habis di masukin kulkas. Aku yang tiap hari berpanas-panasan sampe 34' celcius trus ketemu dengan suhu dingin Kerinci -16'C - 24'C- rasanya belum bisa beradaptasi. Pagi-paginya disuruh mandi karena mau jalan-jalan. Itu nyiksa banget!. Huhuhu.


Makan malam di Kerinci - (ki-ka) : Aku, Heri, Kak Sudik, Bang Bambang - Yang motoin Pak Ketut


Bangun pagi, aku buka jendela rumah dan sekali lagi aku takjub!. Rumah saudaranya Bos ini kayak rumah lama, panggung dari kayu. Jadi, pas buka jendela atap-atap rumah tetangganya kelihatan dan bukit dibelakangnya juga terlihat lebih dekat. Lalu, awan-awan turun seolah dapat dicapai dengan tangan. Ya Allah, aku di ketinggian berapa meter ini sampe bisa lihat awan sedekat ini. Ini keren banget, menginspirasi dan aku akui untuk pertama kalinya aku terbesit ingin punya rumah di Kerinci! -mengabaikan suhunya yang dingin-.


Penampakan Bukit dan awan yang turun dari jendela



Pagi sekali kami jalan-jalan ke BP3K Pondok Tinggi Kabupaten Sungai Penuh. Setauku, sungai Penuh dulu masuk kabupaten Kerinci. Trus pemekaran daerah gitu. Jadi BP3K yang kami datangi ini ada di Kabupaten Sungai Penuh. BP3K Pondok Tinggi waktu itu baru saja di bangun dan belum di resmikan. Disana kami di sambut sama penyuluh-penyuluh dari Pondok Tinggi. Banyak ceweknya loh, kan seru. Jadi, selama di ajak mereka jalan-jalan, aku di tarik ikut ke mobil mereka. Ada ibu Kepala BP3Knya bu El (Kalo gak salah, benar), kami sempat mampir kerumahnya dulu dan melihat pemanfaatan pekarangan rumahnya yang apik banget. Udah kayak di buku Bahasa Indonesia jaman dulu. Didepannya teras, viewnya sawah dan bukit hijau. Dibelakang rumahnya ada kolam ikan dan ternak unggas. Keren deh.

Kami Diajak jalan ke perkebunan kopi petani. Sambil kesana, kami mampir ke Bukit Khayangan. Di bukit khayangan aku spechless melihat jalan yang kami lewati sebelumnya mengecil di bawah sana. Danau Kerinci terlihat dari atas sini. Padahal tempat kami menginap di tepi Danau Kerinci loh. Mungkin bukit yang ku lihat dari jendela itu, ini kali ya. Wih, keren bangeett!.


Danau Kerinci dari Bukit Khayangan seolah dapat disentuh dengan tangan


Puas ke Bukit Khayangan, kami menuju ke wilayah perkebunan kopi milik Petani di Pondok Tinggi. Perjalanan kami selama dan sejauh itu -bahkan menuju ke perkebunan masyarakat- kami lewati dengan mulus karena jalannya aspal sampe sana. Keren kan?. Nyuluh tanpa hambatan ini mah. Disana kami menemui petani kopi yang telah membesarkan kopinya seperti anak sendiri -eh-. Aku gak tanya-tanya sih kayak yang lain, aku lebih ke nyari lokasi foto, mengamati tempat baru dan curi dengar sedikit. Bapak ini kakinya di patuk ular loh. Katanya udah dua hari tapi gak di bawa berobat. Itu kakinya diikat doang pake kain. Duh, serasa Oom Hazen Audel  yang udah ahli banget di alam bebas. Saking nyantainya, masih bisa ngepul itu loh rokoknya. Emang gak sakit apa ya?. Jadi, karena curi dengar cerita bapak itu, aku yang keliling-keling mengamati spot bagus jadi ngeri mau kemana-mana. Kalau katanya di patuk ular itu tandanya mau nikah, itu artinya ngimpi!.

Pak Bos, Penyuluh teladan di Kecamatan Pondok Tinggi, Petani Kopi dan Ibu El Kepala BP3K Pondok Tinggi.


Di sana, Kebun Kopi jadi primadona petani. Sama Halnya Pinang yang jadi primadona di Sadu. Beberapa tempat ada yang alih fungsi lahan dari perkebunan Teh menjadi Kopi (Kalo gak salah lihat lah ya). Emang kayaknya yang minat kopi lebih banyak dari pada teh. Cowok-cowok cool itu ngopi, bukan ngeteh. Buktinya Chicco Jericho kan gitu ya?. 

Sehabis dari Kebun Kopi kami ke Stand Kopi yang di kelola oleh kelompok tani Kayo. Tingkatan mereka udah tinggi dari petani yang ada di Kecamatanku dengan mengelola hasil pertanian (kopi) mereka dan memasarkannya langsung. Jadi, harga sepenuhnya mereka yang nentukan dan gak tertekan dengan aturan pengumpul/toke. Mereka udah pake kartu nama, itu tandanya usaha mereka udah skala besar. Kami di Ajak melihat pengolahan kopi mereka, trus produk-produk yang mereka hasilkan dalam kemasan dan berkesempatan nyicip kopi yang katanya udah di pasarkan ke luar Sumatera. Keren!.

(ki-ka) : Bu En, Bang Bambang dan Ibu El memasuki ruangan pengelolaan kopi.

Si bapak buat kopinya dengan perasaan. Kayak lagi lomba dan di lihatin juri gitu ya. 

Nih kopinya warnanya kemerahan gini, bukan kayak yang biasa aku lihat.


Jadi, rasa kopinya asem. Hahahah. Sebenarnya aku alumni penikmat kopi hitam -sekarang udah pensiun gegara maag-. Tapi, taunya kopi AAA doang sama kopi buatan tangan nek jaman dulu. Kalo dibilang mungkin kopi jenis ini lagi tren-trennya ya. Tapi, sorry to say aku lebih suka kopi yang biasa di minum datuk dan petani-petaniku di kampung. Pahit, manis dan pekat.

Sehabis itu, kami jalan-jalan lagi ke ketemu petani kentang, petani bawang, dan petani lainnya. Bagi kamu yang gak tau, hampir sebagian besar sayuran yang kita konsumsi di Jambi emang berasal dari sana. Tomat, Cabe, Bawang, Kentang, Wortel, banyak lagi. Kalau ku bilang Kerinci -dan Sungai Penuh- adalah negeri khayangan, ya apa yang telah kulihat dan ku rasakan itu mewakili dan membenarkan semuanya. 

Pulangnya kami sempat mengunjungi Kayu Aro. Tempat yang dulu pengen aku datangi bareng babang Vino G Bastian. Ternyata di Kayu Aro lebih dingin dari yang kami duga. Mungkin karena cuaca pada saat itu gerimis, jadi suhunya dingin banget kayak malam kemarin. Awan-awan turun jadi kayak kabut. Aku ngebayangi film Twilligh dan film Vampire sejenisnya yang setting tempatnya minim cahaya matahari kayak gini. Ditambah lagi perkebunan teh yang tersusun kaku disepanjang perjalanan kami. Kayak di tatapin gitu loh. 

Tujuannya mau ke pemandian air panas, tapi berhubung ternyata kendali berada di bawah tanganku, akhirnya putar balik ke rumah saudara Bos. Tapi sebelum itu sempat mampir ke rumah penyuluh juga temannya bang Bambang dan kami cees bertiga menunggu boring mereka nostalgia semasa SPMA (seharusnya kita nostalgia juga masa kuliah tiga tahun lalu). Akhirnya pulang malam dan larut banget sampe rumah. Karena permintaanku juga mereka membatalkan niatnya untuk langsung ke Padang. Kayak simalakama, mau gimana lagi, lusa udah nikahnya kakak sahabatku (Kak Mah) udah di beliin baju bridesmaid (Baju kopel maksudnya loh) masa gak datang. Sementara mereka (aku juga sih) merasa aku perjalanan ini gak cukup. Belum puas rasanya lama-lama di sini (Maafkan Wina ya man teman, kalo kalian kebaca tulisan ini).

Subuhnya, kami pulang. dalam keadaan ngantuk dipaksa juga pulang biar bisa sampe sadu besoknya. Si Sastra (Menantunya Bos) yang bawa mobil patut di acungi jempol lah. Meski pada suatu kejadian kami hampir tabrakan sama minibus yang kayaknya ngantuk pas bawa mobil. Mana tepinya jurang lagi Ya Allah. Aku yang kaget dan was-was setelahnya teralihkan melihat awan-awan yang turun dan bisa ku sentuh dengan tangan. Aku bahkan mengabaikan mereka yang didalam mobil masih tidur, kedinginan karena aku buka kaca mobil.  Rasanya, uhhh ini benar-benar khayangan. Menulis ini aku masih ingat suasananya ketika itu, aromanya, dinginnya, awan-awan yang menggumpal berarakan, pohon-pohon dan lambaiannya. Seolah bilang "Kembali lagi kesini yaa"

"Ya, kalau ada orang Kerinci yang melamar" Bahahahahahaaha

Lah, ini udah pagi lagi. 
Cerita Project Katak Dalam Tempurung ini aku akhiri.
Aku berharap, suatu saat aku bisa ke Kerinci lagi.

Terimakasih sudah membaca. Tinggalkan jejak untuk ceritaku ini jika kamu berminat. Kritik, saran untuk tulisan ini dengan selapang-lapangnya dibuka.

Sampai jumpa di cerita Project Katak Dalam Tempurung-ku yang lain. Babaiiii.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 🤗